Kamis, 17 Juli 2014

MANFAAT DO’A DAN DZIKIR MENGINGAT ALLAH


MANFAAT DO’A DAN DZIKIR MENGINGAT ALLAH
Manfaat do’a dan dzikir banyak sekali, bisa mencapai seratus lebih. Kami sebutkan sebagaian di antaranya :
1.     Mendatangkan  keridhaan Allah;
2.     Mengusir syaitan, menundukkan, dan mengenyahkannya.
3.     Menghilangkan kesedihan dan kemuraman hati;
4.     Mendatangkan kegembiraan dan  ketentraman (di dalam) hati;
5.     Menguatkan hati dan badan;
6.     Membuat hati dan wajah berseri;
7.     Melapangkan rizki;
8.     Menimbulkan kharisma dan rasa percaya diri;
9.     Menumbuhkan rasa cinta  kepada Allah yang merupakan ruh Islam, inti agama, poros kebahagiaan dan keselamatan;
10.            Menumbuhkan perasaan bahwa dirinya diawasi Allah, sehingga mendorongnya untuk selalu berbuat kebajikan. Dia beribadah kepada Allah dan Allah melihat dirinya secara langsung;
11.            Membuahkan ketundukan, yaitu kepasrahan diri, kepada Allah dan kembali kepada-Nya. Selagi diaa banyak kembali kepada Allah dengan cara menyebut asma-Nya, maka dia pun akan kembali pada-Nya dengan hatinya, sehingga Allah menjadi tempat mengadu dan tempat kembali, kebahagiaan dan kesenangannya, tempat bergantung tatkala senang dan mendapat musibah;
12.            Membuahkan kedekatan kepada Allah. Semakin banyak seseorang berdzikir maka semakin dekat ia kepada Allah. Dan begitu pula sebaliknya;
13.            Membuat berbagai pintu ma’rifat selebar-lebarnya. Semakin  banyak dia berdzikir, semakin lebar pintu ma’rifat yang terbuka baginya. Ma’rifat diraih melalui (1) Belajar Alqur-an dan as-Sunnah menurut pemahaman Sahabat, (2) Mengamalkan yang wajib, sunnah, dan menjauhi yang dilarang, (3) ikhlas dalam beramal, (4) ittiba’ kepada Nabi dan (5) selalu berdzikir;
14.            Menumbuhkan rasa takut kepada Allah dan memuliakan-Nya;
15.            Membuatnya selalu diingat oleh Allah, sebagaimana firman Allah: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu....” (QS. Al-Baqarah:152);
16.            Membuat hati menjadi hidup. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:”Dzikir bagi hati sama dengan air bagi ikan, maka bagaimana keadaan yang akan terjadi pada ikan seandainya ia berpisah dengan air?”;
17.            Dzikir merupakan santapan hati dan ruh. Jika hati dan ruh kehilangan santapannya, maka sama dengan badan yang tidak mendapatkan santapannya;
Suatu kali,  kami (Ibnu Qayyim al-Jauziyyah) menemui Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah yang sedang melaksanakan shalat Shubuh. Seusai shalat Shubuh, ia berdzikir hingga hampir pertengahan siang. Pada saat itu, ia menoleh kearahku seraya berkata,” Inilah santapanku. Andaikan aku tidak mendapatkan santapan ini, tentu kekuatanku akan hilang.”Syaikhul Islam juga pernah berkata kepada kami:”Aku tidak akan meninggalkan dzikir, kecuali dengan niat memang itulah yang dikehendaki oleh jiwaku atau karena aku ingin istirahat. Istirahat ini artinya persiapan bagiku untuk melakukan dzikir berikutnya.”
18.            Membersihkan hati dari karatnya. Segala sesuatu ada karatnya dan karat hati adalah lalai dan hawa nafsu. Sedangkan untuk  membersihkan karat ini adalah dengan taubat dan istighfar.
19.            Menghapus  kesalahan dan menghilangkannya. Dzikir merupakan  kebaikan  yang paling agung. Sementara kebaikan dapat menyingkirkan  keburukan.
20.            Menghilangkan  kerisauan dalam hubungan antara dirinya dengan Allah. Orang yang lalai tentu akan dihantui kerisauan antara dirinya dengan Allah, yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan dzikir.
21.            Takbir, tasbih, tahmid dan tahlil yang diucapkan hamba saat berdzikir akan mengingatkannya saat dia ditimpa kesulitan.
22.            Hamba yang mengenal Allah dengan cara berdzikir di saat lapang,  menjadikan dirinya tetap mengenal-Nya saat menghadapi kesulitan, dan Diapun akan mengenalnya ketika itu.
23.            Brdzikir kepada Allah merupakan benteng yang kokoh dari keburukan-keburukan dunia dan akhirat,  serta menyelamatkan diri dari adzab Allah,  sebagaimana yang dikatakan oleh Mu’adz bin Jabal, “Tidak ada amal yang dilakukan anak Adam yang lebih menyelamatkannya dari adzab Allah, selain dari dzikir kepada-Nya."
24.            Menyebabkan turunnya ketenangan, datangnya rahmat, dan  para  Malaikat mengelilingi orang yang berdzikir, sebagaimana disabdakan oleh Naabi.
25.            Dzikir menyibukkan lisan agar tidak melakukan ghibah, adu domba, dusta, kekejian dan kebathilan. Siapa yang  membiasakan lidahnya untuk berdzikir, maka lidahnya lebih terjada (selamat) dari kebathilan dan perkataan yang sia-sia.
26.            Majelis  dzikir merupakan majelis para malaikat,  sedangkan majelis kelalaian dan permainan merupakan  majelis syaitan.
27.            Malaikat akan selalu memintakan ampunan kepada Allah bagi orang-orang yang berdzikir. Dan banyak berdzikir akan menghindarkan dari sifat nifaq.
28.            Orang  yang senantiasa berdzikir kepada Allah akan merasa bahagia dan mendapat keberkahan, begitu pula orang yang dekat dengannya.
29.            Dzikir memberikan rasa aman dari penyesalan di hari Kiamat karena majelis yang di dalamnya tidak terdapat dzikir kepada Allah akan menjadi penyesalan pada hari kiamat.
30.            Berdzikir kepada Allah sambil meneteskan air mata dikala sendiri akan melindungan pelakunya dari panas matahari di padang Mahsyar pada hari Kiamat karena  dia dilindungi oleh ‘ Arsy Allah. Sementara orang lain  yang tidak berdzikir kepada Allah akan tersengat oleh panasnya matahari pada saat itu.
31.            Dzikir merupakan ibadah yang paling mudah, namun paling agung dan paling utama. Sebab, gerakan lidah merupakan gerakan anggota badan yang paling ringan dan paling mudah.”
32.            Dzikir merupakan tanaman surga, sebagaimana yang diriwayatkan  oleh at-Tirmidzi dari  hadits’Abdullah bin Mas’ud, dia  berkata:” Rasulullah  bersabda:’Pada malam aku diisra’kan,  aku bertemu Ibrahim al-Khalil,  seraya berkata kepadaku:’Hai Muhammad, sampaikanlah salamku kepada ummatmu dan beritahukanlah kepada mereka bahwa Surga itu bagus tanahnya, segar airnya, dan bahwa Surga itu merupakan kebun, sedangkan tanamannya adalah :”Mahasuci Allah, segala puji milik-Nya, tidak ada  yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan Allah Mahabesar.” Menurut at-Tirmidzi, hadts ini hasan gharib. Dia juga meriwayatkan dari Abu az-Zubair, dari Jabir, dari Nabi beliau bersabda:”Barang siapa mengucapkan:’Mahasuci Allah yang Mahaagung,
33.            Pemberian dan karunia yang dilimpahkan  karena dzikir ini tidak pernah dilimpahkan karena amal yang lain. Di dalam ash-Shahiihain (Shahiih al-Bukhari) disebutkan, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda:”Barang siapa mengucapkan:”Tidak ada ilah  yang berhak diibadahi dengan benar melainkan hanya Allah Yang Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu,’(Sebanyak) seratus kali dalam sehari, maka dia mendapat pahala seperti pahala membebaskan sepuluh budak, ditetapkan baginya seratus keburukan  dan hal itu menjadi perlindungan dari syaitan pada hari itu hingga sore hari, dan tidak ada seorang pun yang membawa sesuatu yang lebih baik daripada apa yang dibawa oleh orang itu, kecuali orang yang melakukannya lebih banyak lagi.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar